Senin, 07 Januari 2008

SMPK KAPUTU MAKIN TERHIMPIT


1. Pendahuluan.
Ketika membaca judul tulisan ini pembaca mungkin merasa heran atau menuding bahwa penulis berpikiran kerdil atau takut bayangan; tetapi yang hendak saya utarakan disini merupakan satu solusi sederhana dalam menghadapi kemelut yang timbul dari adanya isu bakal SMP kecil.
SMPK Kaputu merupakan salah satu sekolah swasta yang berada dibawah Yayasan Persekolahan Umat Katolik Belu di Sasitamean-Paroki St. Yohanes Pemandi Kaputu. Kini nasibnya mulai dipertanyakan oleh beberapa oknum yang menaruh perhatian dan keprihatinan terhadap sekolah itu.
Menurut rencana panitia, dua SMP kecil itu berlokasi di Kecamatan Malaka Timur desa Kapitanmeo dan desa Kufeu Kecamatan Sasitamean. Langkah itu sangat boleh jadi disebut upaya pemerataan pendidikan; bahwasannya untuk mendukung keberadaan bakal SMA Negeri Kaputu di Kecamatan Sasitamean.
Namun yang memprihatinkan bahwa ada semacam eksistensinya. Mengapa? Lokasi bakal SMA Negeri Kaputu yang sementara diperjuangkan panitia satu lokasi dengan pasar yang dibangun pada masanya mantan Camat Sasitamean, Ludovikus Taolin, BA. Lokasi bakal SMP Kecil itupun berada di desa di mana SMP Swasta ini mendapat banyak siswa. Oleh sebab itu banyak pemerhati mencurigai jangan sampai tahap pembangunan fisik ini merupakan manifestasi politik yang telah lama terpendam dalam hati para pengambil kebijakan di Kecamatan baru itu. Sebab tidak ada alasan lain yang mendesak kecuali pembangunan itu bertujuan untuk kesejahteraan hidup banyak orang dan tidak mengorbankan pihak tertentu. Sampai di sini muncul persoalan : Benarkah upaya pengadaan kedua SMP kecil itu sungguh menyentuh kebutuhan masyarakat dan tidak mengorbankan lembaga pendidikan swasta yang sudah ada? Kita komitmen bahwa itu untuk mendukung bakal SMA, tetapi kerja sama pengambil kebijakan baik pemerintah maupun kalangan religius masih belum berwibawa di mata masyaakat dan atau umat.

2. SMPK Kaputu sekilas pandang


SMPK Kaputu adalah sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Persekolahan Umat Katolik Belu; dirikan tahun 1976 atas swadaya masyarakat Paroki Kotafoun; sebagai promoter adalah Yosef Metom B.BA
Penyelenggaraan Pendidikan melalui sekolah swasta ini didasarkan pada kesulitan nyata yang dihadapi masyarakat; bahwa begitu banyak anak usia SLTP tidak melanjutkan karena jarak terlampau jauh; sementara itu pelayanan Iman di kapela Kaputu berjalan tidak lancar, karena umat tinggal jauh dari kapela.
Pada mulanya SMP ini menampung siswa dari dua kecamatan yaitu Malaka Tengah ( sasitamean-sek) dan Malaka Timur. Dari kegiatan memanusiakan manusia sekolah ini sudah menamatkan 24 angkatan; dengan bobot jebolan tidak kalah bersaing dengan out-put dari SMP-SMP lain.Keberadaan sekolah ini juga turut merintis kehidupan Kapela Kaputu; yang kini sudah menjadi paroki. Bukankah ini sesuatu yang perlu dihargai.Bagaimana nasibnya ke depan?

3.Analisa Dampak Kehadiran bakal Dua SMP Kecil di Sasitamean

Setiap komitmen yang baik untuk kepentingan dan kesejahteraan banyak orang pasti diperhitungkan Tuhan.Kehadiran bakal dua SMP kecil di Sasitamean dipandang sangat relevan; bahwasannya untuk mendukung bakal SMA Negeri.
Hal ini tentu menggembirakan banyak orang. Alasannya : masyarakat bebas memilih skolah sesuai keinginannya; dalam hal ini mutu ikut memberi sumbangan bagi arah berpikir masyarakat,tentang adanya antar sekolah; yang memacu orang bersangkutan dan pihaksekolah sendiri untuk menentukan secara tepat; para peminat melihat wibawa sekolah bukan pembeberan sejumlah program verbal,setiap pimpinan sekolah dan bawahannya dituntut untuk membangun relasi yang baik ditengah-tengah masyarakat majemuk, pihak sekolah bersangkutan mendapat tekanan yang mengarahkan kepada pembenahan diri.
Kiranya alasan-alasan diatasmasih belum cukup, tetapi minimal memeberikan keterangan tentang pengaruh keberadaan suatu sekolah.
Oleh karena itu para pengambil kebijakanpun perlu memperhatikan nilai iman di sekolah entah swasta maupun sekolah negeri. Karena " Semangat iman merupakan suatu kebiasaan untuk menilai segalanya dari sudut cahaya adikodrati ", Demikian kata JVS. Tondowidjojo CM dalam tuliannya yang berjudul " Kunci Sukses Pendidikan dalam Pembangunan ".
Adanya nilai-nilai positif tersebut, kiranya tidak dapat diingkari bahwa adajuga dampak negatif yang menyertai keberadaan dua SMP bakal ini. Jika tidak ada terobosan-terobosan bijak dari para pemimipin di kaputu, baik pemerintah maupun swasta, maka SMP akan mati dengan sendirinya. Sekolah Swasta ini akan semakin terjepit dalam mendapatkan siswa baru.
Berikut ini penulis menawarkan salah satu solusi sederhana sebagai jawaban atas kemelut dan ketidakpastian arah masa depan SMPK kaputu.


Satu, membangun kembali komunikasi harmonis antar para pengambil kebijakan baik di kalangan pemerintah maupun kaum religius. Dengan itu persoalan tertentu mendapat pencerahan. Karena bagaimanapun juga, sehebat apapun setiap orang mempunyai kelemahan. Kata orang bijak " Saling memaafkan itu manusiawi tetapi saling mengampuni itu yang Ilahi."

Kedua, meningkatkan mutu pendidikan di sekolah secara benar; seperti SMP HTM halilulik dan SMP Don Bosko Atambua. Memang berbicara tentang mutu tidak terlepas dari mutu guru dan disiplinnya.


Ketiga, Meningkatkan kesejahteraan guru; dapat kita bayangkan bagaimana seorang guru mengajar berapi-api sementara pulang harus berjalan kaki, tiba di rumah meraup nasi dengan garam.

Keempat, Memberi kemudahan belajar bagi guru dan siswa serta refresing supaya ada kesempatan bergembira sambil merenung tugas pengabdiannya.
Kita patut angkat topi bahwa umumnya para guru dan pegawai swasta bisa jadi lebih besar pengorbanannya dalam pengabdian ketimbang pegawai negeri.Upah yang diberi sangat sedikit khusus untuk SMP Kaputu dan mungkin beberapa sekolah swasta lain di Belu ini. Tetapi tak apalah mari kita hibur diri dengan apa yang diungkapkan oleh St. Agustinus bahwa " Dimana ada cinta kasih disitu ada pengorbanan ". Dan pengorbanan inilahyang harus dicintai. Tapi patut dicamkan bahwa sang Martir itu berujar bahwa "
bila aku harus menyenangkan semua orang maka aku bukanlah hamba Allah".

4.Penutup

Realisasi pembangunan dalam bidang apapun perlu mempertimbangkan berbagai aspek. Seperti halnya aspek pedidikan iman. Sekolah-sekolah katolik menjadi tempat pembinaan iman. Mungkin juga sekolah-sekolah lainnya tetapi yang mau ditekankan disini adalah pelayanan dalam hal-hal praktis dan rutin.
Karena itu setiap perencanaan harus mempertimbangkan efisiensi dan efektifitas. Hal ini ikut menentukan kemajuan suatu daerah.Kerukunan dan kerjasama juga merupakan suatu keutamaan, sebab apa gunanya berada dalam era kemajuan tetapi nilai kemanusiaan dicabik-cabik.

(Sumber: Majalah BERKAT Keuskupan Atambua)
Edisi: 91/XXI/2004
*** R.Gaby***

Tidak ada komentar: